Sunday, April 11, 2010

Iran Sukses Uji Coba Mersad Rudal Anti Pesawat


12 April 2010 -- Iran telah mengembangkan dan sukses menguji coba sistem pertahanan udara pertama buatan dalam negeri, sistem ini lebih canggih dibandingkan rudal Hawk buatan Amerika Serikat, yang telah dioperasikan sejak 1970-an oleh Iran.

Menteri Pertahanan Iran Ahmad Vahidi mengatakan Minggu (11/4) bahwa rudal anti pesawat, Mersad, mampu menghancurkan pesawat terbang pada ketinggian rendah maupun sedang. Serta dilengkapi teknologi pengolah signal radar canggih, peluncur modern dan peralatan elektronik untuk pengarah dan penentu sasaran.

Teknologi terkini yang digunakan Mersad terhubung dengan sistem baterai pertahanan udara lainnya, ujar Vahidi.

Jarak tembak rudal Mersad tidak diumumkan, tetapi rudal Hawk mempunyai jarak tembak hingga 15 mil.

Iran mulai memproduksi skala massal rudal jarak menengah dan berencana mengirimkan ke angkatan bersenjata pada akhir tahun ini.

Iran terus berusaha meningkatkan kemampuan pertahanan udaranya secara mandiri guna melindungi dari serangan Amerika Serikat dan Israel.

Rusia belum merealisasi pengiriman sistem pertahanan udara S-300 ke Iran karena tekanan dari AS dan Israel. Iran mengancam Rusia akan mengajukan ke mahkamah internasional jika tidak menghormati kontrak yang sudah ditandatangani.

Sistem S-300 menyulitkan jet-jet tempur Israel jika diputuskan menyerang fasilitas nuklir Iran.

Potongan Sejarah yang hilang : KRI Tjandrasa

Ada banyak potongan sejarah kita yang hilang. Padahal, potongan-potongan itu berbicara tentang waktu, manusia, dan semangat juang yang membakar hidupnya. Kita sering terjebak pada seremonial, wacana, dan citra. Padahal, ketika masa kita hampir berlalu, jejak yang tertinggal adalah pengorbanan kita untuk orang-orang di sekitar kita.

Begitu potongan-potongan yang ada seusai upacara Hari Dharma Samudera, Jumat (15/1), yang dipimpin Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Madya Agus Suhartono.

Dalam bedah buku Mission Accomplished-Misi Pendaratan Pasukan Khusus oleh Kapal Selam RI Tjandrasa, diceritakan operasi rahasia Tjakra II yang digelar di Teluk Tanah Merah, Irian Barat, sebagai bagian dari Operasi Trikora.

Komandan kapal selam pertama, Laksamana Pertama (Purn) Raden Panji Poernomo, menceritakan bagaimana KRI Tjandrasa 408 di bawah pimpinan Mayor (Laut) Mardiono ngotot menjalankan misi. ”Mendaratkan RPKAD dengan ranselnya yang berat itu tidak mudah bagi kapal selam,” kata Poernomo.

KRI Tjandrasa berstrategi untuk mendekati pantai menjelang malam. Namun, upayanya gagal karena ada kapal patroli Belanda. KRI Tjandrasa ketahuan dan diusir. Mardiono tidak menyerah, pikiran nakalnya menyatakan, Belanda tidak akan berpikir, ia akan kembali keesokan harinya pada waktu dan tempat yang sama. ”Mereka pikir, kita tidak akan berani. Tetapi, justru itu yang persis kita lakukan dan kita berhasil,” kata Mardiono.

Masih seputar operasi Trikora, Luther Bindosano (67), seorang anak buah kapal KRI Macan Tutul, yang tenggelam di bawah pimpinan Laksamana Madya Yos Sudarso, menceritakan kenangannya tentang masa-masa seputar 13 Januari 1962, tanggal tenggelamnya KRI itu.

”Bocah, kamu ke sini. Kamu asal mana,” begitu Luther menirukan ucapan Yos Sudarso dalam pertemuan pertama mereka. ”Putra Waropen, Papua, Bapa,” jawab Luther. ”Apa kamu sudah siap, korbankan kepala dan dada kamu,” tanya Yos Sudarso lagi. ”Bapa, saya sudah siap,” jawab Luther. ”Tanah sepotong digenggam di tangan, bawa pulang ke Indonesia, ya,” begitu pesan terakhir Yos Sudarso yang terus terngiang di telinga Luther di tengah desingan peluru di 3-4 jam terakhir KRI Macan Tutul.

Luther, penembak itu, terapung-apung empat jam sebelum ditemukan tentara Belanda. Matanya jadi buta karena kuatnya radiasi bom. Ia dipukuli, dimasukkan ke dalam karung, diinjak-injak, dan tiga bulan dijadikan tawanan perang. Namun, hingga kini dia tidak menyesali 3-4 jam paling berpengaruh dalam hidupnya.

”Kita lawan terus. Kita pasti menang. Betul toh, sekarang kita menang,” kata pensiunan itu tanpa bisa dihentikan. (EDN/Ars)

Batas Perairan Tumpang Tindih


11 April 2011, Balikpapan -- Polemik perbatasan dua negara antara Republik Indonesia dan Malaysia, ternyata bukan di daratan saja. Hingga kini, batas wilayah perairan kedua negara juga masih tumpang tindih. Hal tersebut terjadi lantaran masing-masing negara memiliki klaim atas batas wilayah perairan.

Hal ini diungkapkan Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Agus Suhartono. Dia dikonfirmasi wartawan terkait persoalan batas wialayah perairan RI-Malaysia, sesaat sebelum bertolak ke Jakarta di VIP Room Bandara Sepinggan Balikpapan, sekaligus mengakhiri kunjungan kerjanya ke wilayah perbatasan, kemarin.

“Saat ini Indonesia sudah membuat batas perairan sesuai asumsinya. Begitu juga dengan Malaysia. Kalau klaim tapal batas ini disatukan, akan terjadi tumpang tindih atau overlapping. Akibatnya, ketika ada kapal-kapal patroli Malaysia yang masuk ke batas wilayah yang kita asumsikan, maka kita akan menilainya sebagai pelanggaran batas wilayah. Begitu juga jika kapal patrol kita masuk ke dalam frame yang mereka asumsikan, akan dianggap sebagai pelanggaran,” tegas Agus Suhartono.

Karena itu menurut Agus, kunci dari penyelesaian masalah perbatasan selama ini masih mengedepankan jalur diplomasi. “Penyelesaian persoalan tapal batas ini bisa didapatkan, manakala perundingan perjanjian tapal batas sudah bisa disepakati. Karena itu, kita mendukung upaya pemerintah untuk mengedepankan jalur diplomasi bukan jalur kekuatan. Jika perjanjian tapal batas ini sudah disepakati, jelas mana wilayah kita dan mana yang bukan, barulah kita lebih tegas lagi,” ungkap Agus.

Meskipun begitu menurutnya, pengamanan wilayah perairan juga tetap diperhatikan. Selain mengerahkan 7 Kapal Republik Indonesia (KRI), yang secara rutin patroli di wilayah perbatasan sepanjang tahun, juga dibangun pos-pos pengamanan perbatasan.

“Untuk pos pengamanan perbatasan TNI Angkatan Laut, kita memiliki 6 pos. Empat di antaranya di wilayah utara dan dua di wilayah selatan. Empat pos itu antara lain di Sei Bajau, Sei Pancang, Sei Taiwan, dan satu pos di Perikanan . Tiap pos, masing-masing diperkuat 7 personel, dilengkapi dengan sarana dan fasilitas. Seperti combat boat, kemudian sea radar, dan sarana lainnya,” terang Agus.

Bahkan untuk mendukung pengawasan wilayah perbatasan ini, Mabes TNI Angkatan Laut juga sudah membangun sarana radar pantai di salahsatu pos pengamanan perbatasan.

“Untuk radar pantai ini, dibangun di pos Sei Pancang. Sudah mulai dibangun tahun lalu, dan sekarang sudah beroperasi,” tambah Agus.

Radar pantai ini memiliki kemampuan mendeteksi kapal-kapal yang masuk di wilayah perairan RI, dengan radius hingga 40 mil laut.

Kejahatan Perairan Menurun

Sementara itu terkait masalah kejahatan dan kasus-kasus yang terjadi di wilayah perairan, seperti praktik ilegal, sejak digalakkan operasi dan patroli rutin yang dilakukan jajaran TNI AL bersama kesatuan lain, Laksamana TNI Agus Suhartono menegaskan terjadi penurunan jumlah yang cukup signifikan.

“Kalau dipersentase, saat ini mungkin terjadi penurunan hingga 50 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Saat ini, kejahatan yang terjadi di laut, umumnya memang bukan kejahatan besar, tetapi lebih karena kebutuhan ekonomi para pelakunya, misalnya Illegal oil. Di wilayah timur relatif lebih kecil dibandingkan di wilayah barat ,” terang Agus.

Meskipun tak menutup kemungkinan, jenis kejahatan lain seperti imigran ilegal, illegal fishing, illegal oil, illegal logging juga masih terjadi. “Salahsatu yang saat ini juga sedang jadi perhatian, seperti yang disampaikan gubernur Kaltim dan wali kota, adalah adanya transit batu bara dari kapal besar ke kapal kecil. Ini juga akan jadi perhatian,” tambah Kasal lagi.

Ingin Sebutan Satkopaska Dikembalikan

24 anggota Kopaska melakukan latihan penyergapan teroris di kawasan Tambak Wedi, Surabaya, tahun lalu. (Foto: detikFoto/Zainal Effendi)

11 April 2010 -- Sejak 22 Maret lalu, Satuan Komando Pasukan Katak (Satkopaska) memiliki komandan baru. Dia adalah Letkol Laut (P) Yeheskiel Katiandagho yang sebelumnya menjabat Wadan Resimen Kadet AAL. Dia membeberkan kepada Jawa Pos berbagai ide untuk mendigdayakan kesatuan yang juga dikenal sebagai Frogman itu.

Salah satu caranya, mengembalikan pengucapan kesatuannya secara utuh. Yakni, Satkopaska. Sebab, pria kelahiran Malang tersebut mengaku kurang sreg dengan sebutan satuan yang baru dipimpinnya itu. Pengucapan yang dimaksud adalah menyingkat nama kesatuan menjadi Paska tanpa embel-embel satuan komando. Cara pengucapan tersebut, menurut dia, kurang pas.

Menurut dia, penyebutan kesatuan seharusnya bisa utuh layaknya kesatuan lain yang di dalam Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim). ''Secara administrasi memang Satkopaska, tapi pengucapannya tidak demikian,'' ujarnya.

Nah, side effect dari ketidaklengkapan penyebutan nama tersebut, menurut Yeheskiel, berpengaruh pada kebanggaan akan kesatuan. Dia lantas mencontohkan penyebutan atau penulisan alamat yang salah. Alamat yang dicari tidak akan ditemukan dengan cepat dan tepat. ''Bukannya apa-apa, tujuannya, semua punya visi dan misi yang sama dengan kami di sini,'' jelasnya.

Gebrakan yang dilakukan tidak hanya berkutat pada nama Satkopaska. Ayah dua anak tersebut juga mulai merintis pembangunan lapangan tembak di dalam lingkungan Kopaska. Dalam kepemimpinannya, makan bersama komandan dan pasukan menjadi menu baru yang tidak boleh dilewatkan. Dari situ, dia ingin lebih dekat dan bisa menyerap aspirasi pasukannya. Selain itu, dia mengajukan pembangunan flat untuk kesejahteraan prajurit.

Namun, salah satu PR krusial yang harus ditingkatkan saat ini meningkatkan performa dan postur prajurit. Salah satu caranya, menggenjot intensitas latihan. Menurut Yehes­kiel, hal tersebut penting karena persenjataan sudah ber­ubah secara signifikan. ''Sekarang seorang anggota Ko­pas­ka harus menguasai lebih dari 13 item senjata.''

Bukan untuk Dapat Perlakuan Khusus



Menjadi anggota Satkopaska bisa jadi merupakan impian setiap prajurit TNI-AL. Maklum, tidak sembarang orang bisa menjadi anggota korps yang memiliki semboyan Tan Hana Wighna Tan Sirna yang berarti Tak Ada Rintangan yang Tak Dapat Diatasi itu. Hanya, Dansatkopaska Letkol Laut (P) Yeheskiel Katiandagho masih melihat, ada prajuritnya yang belum bisa mensyukuri hal tersebut.

Dia menyatakan, masih banyak pelanggaran kecil yang tidak terlihat. Seperti memukul istri, berbohong, bahkan ngentit. Padahal, menjadi anggota pasukan katak harus menjunjung etika dan kejujuran. "Kita ini bagian dari orang-orang yang dipanggil, tetapi sedikit terpilih. Perilaku juga harus dijaga," tuturnya.

Sebab, kalau sistem itu dilanggar, Yeheskiel menyebut akan merembet ke kesatuan. Saat ini di dalam pasukan yang berdiri pada 31 Maret 1962 tersebut, terdapat tiga unsur. Yakni prajurit yang memiliki brevet, nonbrevet, dan PNS. "Ini semuanya satu keluarga. Satu kena, yang lain juga merasakan," tegas pria humoris itu.


Saat ini Kopaska memang memiliki peran yang punya nilai strategis dalam TNI-AL. Tidak salah masyarakat jika selama ini menginterpretasikan Kopaska sebagai pasukan yang hebat. Sebagai pasukan elite, militansi yang dimiliki juga tidak perlu diragukan lagi. Namun, bagi anggota Kopaska angkatan XVI itu, prajuritnya bukan berarti akan memperoleh perlakuan khusus. Termasuk kebal akan hukum.

Karena itu, Yeheskiel miris jika melihat anggotanya berbuat nakal. Dia memastikan akan menindak anggotanya yang nakal. Prajurit memang harus memiliki wibawa dan disegani, tetapi kesalahan besar jika menakut-nakuti warga.

Pria berdarah Sangihe Talaud, Sulawesi Utara, itu juga melarang anak buahnya terbuai kata-kata pasukan khusus atau elite. Menurut dia, tidak ada pasukan yang hebat. Yang ada hanyalah terlatih. Kemampuan menembak, menyergap, hingga berenang bisa didapat dengan berlatih rutin. "Pesawat itu hebat karena bisa terbang, tapi tidak terlatih. Yang terlatih itu pilotnya," tandas dia.

Oman Dipastikan Beli Typhoon

Eurofighter Typhoon milik AU Arab Saudi. (Foto: BAE Systems)

11 April 2010 – Oman mendekati kesepakatan pembelian jet tempur Eurofighter Typhoon dengan Inggris, diumumkan pemerintah Inggris.

Inggris tidak menyebut jumlah pesawat yang akan dibeli Oman.

Konsorsium Eurofighter terdiri dari Jerman, Itali, Spanyol dan Inggris, mengijinkan menjual jet tempur Typhoon ke negara ketiga.

Inggris telah menjual 24 Typhoon ke Arab Saudi, bagian dari 72 jet tempur yang akan dibeli dibawah Project Salam.

Oman berencana mengganti Sepecat Jaguar dengan Typhoon saat digelar pameran dirgantara Farnborough 2008.

AU Oman mengoperasikan 16 jet tempur Sepecat Jaguar yang diterima 1974, serta 12 Lockheed Martin F16C/D.

Yonif 500 Riders Kodam V/ Brawijaya

Tim anti teror Yonif 500/Raider. (Foto: detikFoto/Rois Jajeli)

11 April 2011 -- Bagi Kunto Arief, menjabat sebagai komandan Yo­nif 500 Riders Komando Daerah Militer (Kodam) Brawijaya adalah tanggung jawab yang tidak bisa dibilang mudah. Maklum, kesatuan yang dipimpinnya merupakan kesatuan pasukan elite Angkatan Darat.

Pria dengan dua melati di pundak itu dikenal memiliki ciri khas sebagai komandan yang punya visi dan pandangan jauh ke depan. Karisma sebagai seorang pemimpin yang te­gas dan berwibawa begitu melekat pada pria 39 tahun itu.

Arief menyatakan, pasukan elite Yonif 500 Riders merupakan kesatuan yang berbeda daripada kesatuan lainnya di lingkungan TNI-AD. Untuk masuk sebagai Riders, prajurit harus menjalani tahap seleksi yang sangat ketat.

Secara pendidikan, anggota Riders 500 merupakan orang-orang terpilih untuk menjalani pelatihan selama enam bulan di pusat pendidikan pasukan khusus (Pusdik Pasus) di Batu Jajar, Bandung, Jawa Barat. ''Pendidikannya satu lokasi dengan Kopassus. Namun, kami dilatih sendiri,'' papar Arief kepada Jawa Pos.

Tidak hanya prajurit pilihan, melainkan juga para perwira. Mereka (perwira) juga menjalani tahap seleksi yang ketat. Jadi, bukan berarti karena berpangkat perwira, mereka lantas bisa langsung masuk menjadi Riders. Justru pendidikan untuk perwira lebih berat ketimbang para prajurit.


Saat ini, Yonif 500 Riders Kodam Brawijaya memiliki 711 personel. Mereka terbagi menjadi 27 perwira, 50 personel pasukan penanggulangan teror (Gultor), serta sisanya tamtama dan bintara.

Arief mengatakan, untuk menjadi pasukan elite Riders, ada beberapa tahap atau materi yang diajarkan selama menempuh pendidikan di Pusdik Pasus Jawa Barat. Di antaranya, pertempuran dalam kota (purkota), demolisi (taktik penghancuran), pembebasan sandera (ride bus one), mobil udara (mobud), berkendara (ride car), dan operasi intelijen (Sandi Yuda).

''Khusus Gultor diperkuat pada Sandi Yuda,'' ujar Arief. Arief menyatakan, pasukan Riders berasal dari kata Ride yang artinya mencuri atau melakukan misi dengan kecepatan, ketepatan, dan senyap. Karena itu, pasukan Riders diharapkan memiliki keterampilan khusus untuk menjalankan operasi militer dengan baik.

Mengenai taktik pertempuran, Arief menambahkan, pasukan Riders mendapat porsi seluruh latihan inti selama di Kopassus. Selebihnya dikembangkan sendiri ketika mereka dikembalikan ke barak tempat menjalani tugas sebagai pasukan elite.

Anak keenam di antara tujuh bersaudara itu mencontohkan, ilmu bela diri yang dilakoni pasukan Riders saat ini merupakan pengembangan dari berbagai cabang ilmu bela diri. Di antaranya, karate, taekwondo, dan kick boxing. Percampuran tersebut merupakan cara baru di dunia kemiliteran.

Meski demikian, bukan berarti percampuran itu mengubah dasar-dasar ilmu bela diri yang sudah ada. Melainkan, ada pengembangan dalam gerakan-gerakan yang sudah diajarkan. ''Sehingga, ada penyelarasan gerak dan teknik. Sekali lagi bukan bermaksud untuk mengubah secara total,'' imbuh Arief.


Begitu juga taktik pengamanan. Pasukan Riders mempunyai cara tersendiri ketika dihadapkan pada suatu bentuk pengamanan atau perlindungan. Bagaimana pasukan Riders harus bisa mengerjakan misi yang diberikan dengan minim risiko kegagalan. Praktis, para pasukan elite itu memang harus bekerja ekstrakeras agar operasi dapat dilakukan secara sempurna.

Terutama saat menjalankan taktik demolisi. Pasukan Riders harus paham betul target perusakan, penculikan, maupun penonaktifkan kegiatan yang dianggap membahayakan misi dalam pertemupuran. ''Semua lebih bersifat logistik dan sangat vital,'' jelas Arief.

Dia lantas menceritakan operasi pembebasan sandera yang dilakukan oleh sekelompok teroris. Dalam pekerjaan itu, anggota Gultor paling banyak berperan. Sebab, mereka dituntut untuk bisa ''merapikan'' situasi dengan meminimalisasi jatuhnya korban. Memang nyawa yang menjadi taruhan. Namun, pasukan Gultor dapat diandalkan dalam situasi tersebut.

Salah satunya, kenang Arief, saat melakukan operasi perburuan tokoh teroris komplotan lanjutan Dr Azhari. Pasukan Riders turut berperan dalam operasi militer secara rahasia. Mereka (anggota Riders dan Gultor) harus berhari-hari jauh dari keluarga dan menyamar sebagai sipil. Namanya juga misi rahasia, Arief tidak menceritakan detail kegiatan yang mereka lakukan.

Panglima TNI : Pemerintah Akan Perbaharui Alutsista TNI


10 April 2010, Jakarta -- Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso menegaskan, Pemerintah berupaya memperhatikan dan memperbaharui Kelengkapan Alat Utama system Persenjataan ALUTSISTA TNI secara bertahap disesuaikan dengan kemampuan Anggaran Negara. Namun semangat juang, melalui Porsi Latihan, wawasan bagi prajurit TNI umumnya dan Angkatan Udara khususnya dalam mendukung tuntutan pelaksanaan tugas-tugas Negara Operasi harus tetap menjadi Prioritas utama.

Demikian pula Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufa'at ditemui RRI usai Perayaan HUT ke-64 Jajaran TNI AU di Jakarta menegaskan, prajuritnya selalu siap dalam pelaksanaan Tugas Operasi baik operasi Rutin harian Pengamanan Kedaulatan Wilayah Teritorial RI dengan menggunakan sejumlah pesawat tempur, jenis Sukhoi, F-16, F-5. Kasau Marsekal Imam Sufa’at mengakui, tantangan tugas TNI AU kedepan semakin berat, namun kemampuan dan semangat juang Prajurit, tetap siap karena kekuatan dan kemampuan Prajurit tidak kalah dengan Negara-negara sahabat, walaupun Alutsista sedang dilengkapi secara bertahap.

Seperti ditunjukkan Pasukan Detasemen Khusus Bravo Paskas TNI AU pada peragaan dalam mengatasi berbagai ancaman terror saat memeriahkan Perayaan Hari Ulang Tahun kali ini, cukup memukau dan menghibur para Petinggi Negara baik TNI, pejabat SIPIL para Komandan Atase pertahanan Asing dan masyarakat Jakarta yang menyaksikan langsung bagaimana maneuver 16 pesawat Tempur di Pangkalan Halim Jumat pagi. Hal ini Menurut Marsekal Imam Sufa’at, telah membuktikan kesiapan Prajurit AU menghadapi tantangan tugas perasi keamanan dan keselamatan Negara Indonesia dimasa mendatang. Selain itu menurut Marsekal Imam Sufa’at, TNI AU telah menetapkan untuk mengganti pesawat jenis OV-10 Bronco, HS Hawk MK-53, dan F5E Tiger. Sedangkan Pesawat angkut, TNI AU juga akan mengganti F 28 VIP, C 212, F 27, dan B 737 MPA.